PUISI (14): HUTAN RUMAH BERSAMA Posted on August 4, 2009 by HE. Benyamine 2 Votes
Quantcast
Masih terbayang hijau terhampar teduh menyapa luasan yang berdesir mencumbu angin segala penjuru menyentuh imajinasi kehidupan bermakna rumah bersama terbentang luas menyatu
Masih ada hijau terlihat di sana terkepung hamparan meranggas menahan pilu betapa keserakahan melahap semua hingga bencana bermuka seribu
Masih ada sisa hijau bertahan penuh daya upaya meluruh daun kering menjamu kemarau terancam nestapa kebakaran yang membara terus menciut jagal setia menunggu
Masih segar teringat banjir memberi duka yang hidup tertimbun tanah terbujur kaku juga kering rekahkan tanah menahan luka yang hidup tercekak tatkala air begitu saja berlalu
Masih nampak hamparan kritis merata angkara baru menghisap sambil bergurau tekanan bertubi-tubi semaikan bibit lupa hingga hijau tersisa menjerit parau
Masih rutin mimpi buruk hadir bercanda kebakaran kemarau berpesta tinggalkan abu betapa kabut asap gantikan udara sungguh teraniaya hutan hanya terangkut kayu
Masih ada tunas hijau kuatkan asa biar merangkak tertatih hadirkan pucuk hijau tak hiraukan kerusakan yang terus mendera melawan keserakahan semangat menanam terpacu
Masih ada harapan terhampar hutan belantara betapa masih banyak orang yang hirau rumah bersama tautkan hati satukan jiwa ada jalan selain keserakahan teguh menghalau galau
Masih terbayang pandangan teduh saat buka mata hijau menari elok terbelai bayu tiada kebanjiran menggauli musim hujan sehangat asmara tiada kekeringan menghantar kemarau
ok selamat ya...da ol blogernya
BalasHapuscoba teruzzzzzzzzz
n ngetez aza..lanjutkan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusPUISI (14): HUTAN RUMAH BERSAMA
BalasHapusPosted on August 4, 2009 by HE. Benyamine
2 Votes
Quantcast
Masih terbayang hijau terhampar teduh menyapa
luasan yang berdesir mencumbu angin segala penjuru
menyentuh imajinasi kehidupan bermakna
rumah bersama terbentang luas menyatu
Masih ada hijau terlihat di sana
terkepung hamparan meranggas menahan pilu
betapa keserakahan melahap semua
hingga bencana bermuka seribu
Masih ada sisa hijau bertahan penuh daya upaya
meluruh daun kering menjamu kemarau
terancam nestapa kebakaran yang membara
terus menciut jagal setia menunggu
Masih segar teringat banjir memberi duka
yang hidup tertimbun tanah terbujur kaku
juga kering rekahkan tanah menahan luka
yang hidup tercekak tatkala air begitu saja berlalu
Masih nampak hamparan kritis merata
angkara baru menghisap sambil bergurau
tekanan bertubi-tubi semaikan bibit lupa
hingga hijau tersisa menjerit parau
Masih rutin mimpi buruk hadir bercanda
kebakaran kemarau berpesta tinggalkan abu
betapa kabut asap gantikan udara
sungguh teraniaya hutan hanya terangkut kayu
Masih ada tunas hijau kuatkan asa
biar merangkak tertatih hadirkan pucuk hijau
tak hiraukan kerusakan yang terus mendera
melawan keserakahan semangat menanam terpacu
Masih ada harapan terhampar hutan belantara
betapa masih banyak orang yang hirau
rumah bersama tautkan hati satukan jiwa
ada jalan selain keserakahan teguh menghalau galau
Masih terbayang pandangan teduh saat buka mata
hijau menari elok terbelai bayu
tiada kebanjiran menggauli musim hujan sehangat asmara
tiada kekeringan menghantar kemarau